Langsung ke konten utama

Pemuda Dalam Ekonomi Distrupsion Dalam Ekonomi Pembangunan


Pemuda Dalam Ekonomi Distrupsion Dalam Ekonomi Pembangunan

71 tahun lalu sejak jaman pemerinahan Ir. Soekarno atau era proklamasi, diwarnai dengan perjuanagn kaum pemuda untuk terlibat aktif dalam agenda pembangunan dan mempertahankan kejayaan NKRI melalui seluruh lini.

Himpunan Mahasiswa islam yang lahir pada 1947 dan merupakan organisasi kader intelektual muslim, berjuang dan angkat senjata untuk melawan agresi Belanda pada tahun 1947. Bersama Tentara Nasional Indonesia dan Tokoh agama untuk menjaga dan mempertahankan Pancasila. Peristiwa ini yang kemudian menjadi sejarah, yang semagatnya harus di teruskan agar kader HMI tidak kehilangan jati dirinya.

Namun pada era Digital ini pemuda tidak perlu berjuang dengan menganngkat senjata lagi, bukan lagi penjajahan secara fisik yang dialamai bangsa ini, namun lebih pada perang terhadap ide dan penguasaan teknologi.  seharusnya lebih tanggap dan resposif dalam melihat peluang dan tantangan jaman moderen yang di penuhi dengan teknologi ini.

Latar belakang ekonomi juga yang kemudaian berpengaruh dalam perkembangan dan penguasaan teknologi di era digital ini. Bank Indonesia mempeerkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) ril Indonesia pada tahun 2017 mencapai 5,1. 2018 prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalamai akselerasi mencapai 0,2 persen sampai 0,5 persen.

Menurut badan Pusat Stataistik (BPS) menyatakan bahwa jumlah angkatan kerja Indonesia per desember 2017 mencapai 131,55 juta jiwa. Kenaikan ini membuat partisipasi angkatan kerja atau TPAK juga mengalami kenaikan. Namun hal ini perbanding lurus dengan jumlah tingkat pengangguran terbuka (TPT) rasio pengangguran di perkotaan mencapai 0,4 sampai 0,41 persen sementara TPT daerah mencapai 0,33 sampai 0,41 persen dengan jumlah pengangguran per Desember 2017 sampai 2.227.800 juta jiwa.

Persoalan lainnya yang juga menjadi perhatian kemudian dalah struktur kependudukan Indonesia yang di perediksikan mengalami Bonus demografi pada tahun 2020-2030. Dimana usia produktif (15-64 tahun) meningkat kisaran 70 persen. Hal ini yang kemudian menjadi dua belah mata pisau, yang pertama sisi menguntungkan karena akan ada sosok-sosok usia produktif yang mampu menciptakan inofasi-inofasi dan lapangan kerja baru dan dapat menujiang peningkatan taraf perekonomian Indonesia, atau akhirnya hanya akan menjadi beban bagi pemerintah dan menambahnya jumlah pengangguran.

Era Digitalisasi Industri yang juga merambah di Indonesia tidak dapat kita abaikan begitiu saja, pengguna internet saja di indonesia rata-rata mencapai 80 persen. Dunia kini sudah mencapai revolusi industri ke –IV,  yang pada titik tekannya adalah pada sistem digital dan teknologi.

Harapan kedepan, revolusi industri ini tidak menjadi momok yang mengerikan bagi bangsa ini, namun dapat di tangkap dengan baik karena memiliki potensi untuk meningkatkan pendapatan negar, dengan meningkatnya evesiensi dan produktivitas, menurunnya biaya transportasi dan komunikasi, meningkatnya evektifitas logistik.

 Masyarakat Indonesia menghabiskan 55 persen waktunya untuk online, mulai dari mendengarkan radio, membaca surat kabar online, online di PC atau di Mobile, Sehingga bila dihitung nilai transaksinya E-commerce pada 2016 5,6 B US Dolar.

Ekonomi Digital dan Internet juga memiliki dampak yang signifikan bagi kelangsungan ekonomi konfension, seperti menurunya daya beli masyarakat secara langsung misal ke toko atau ke pasar, karena produk-produk yang mereka inginkan sudah masuk ke rumah-rumah melalui toko-toko online di mobile. Menurunnya tingkat penggunaaan taksi atau ojek konfensional, hal ini disebabkan pemesanan taksi atau ojek Online telah semakin mudah, dan ekonomis. Masyarakat bisa memesan dari mobile melalui aplikasi lalu driver siap menjemut dan mengantar. Tidak hanya itu, dari jasa bersih-bersih, delevery atau order makanan, jasa angkutan barang, kesehatan dan masih banyak lagi sudah disediakan secara online/daring.

Ekonomi digital Indonesia memiliki presentase pembayaran elektronik pada pembayaran konsumen, pada tahap transisi yakni 25 persen, pada posisi ke tiga lebih tinggi dari Viliphina yang jumlah presentasenya 20 persen, dan lebih rendah dari Malaysia presentasenya 33 persen.

Di dunia saat ini pelaku bisnis sudah merancang bisnisnya dengan Start-up dan bukan Lagi UMKM. start-up sendiri adalah usaha-usaha yang baru, dan baru dimulai, udsaha ini dilakukan dengan menggunakan Teknologi, baik pada internet gelombang ke dua maupun ke tiga. Start-Up memiliki ambisi yang luas, dan mendunia, untuk pemain global. Pembayarannya pun bukan melaului perbankkan dan venture Capital. Start-up sendiri berpotensi menciptakan lapangan kerja yang lebih besar.

Kemudian apa yang harus disiapkan oleh organisasi Himpunan Mahasiswa Islam untuk menjawab tantangan jaman yang sudah masuk ke era digital ini, tentunya harus ada cara pengembangan SDM yang taktis dan berimbas lebih positif bagi kadernya dalam pengembangan diri. Tentunya untuk menghadapi dunia internasional yang kita butuhkan pertaa adalah skil bahasa, agar bisa belajar mandiri dari informasi publik, kemudian penguasaan bahasa pemrograman dan koding komputer, agar mampu menegmbangkan kemampuannya secara langsung. Selanjutnya mentoring dan coaching, statistik dan psikologi, yakni pemikiran yang timbul berdasar data, skala dan informasi sebagai landasan kebijakan.

Komentar