"Senja Yang Tertawa"
Sore saat Jamal termenung di lantai tertinggi gedung warna putih 29 lantai . Di perhatikannya sekitar, melenguh, kemudian terjaga lagi sambi menghisap rokok kretek terakhir miliknya. Dipusatkannya kembali matanya pada gedung gedung pencakar langit yang berderet-deret seperti pasukan rayap yang bertubuh metalik dam menyilaukan mata.
Fikiranya terus menerawang jauh, jauh, jauh sampai dia lupa untuk kembali ke fikiran semula. tersesat dan kedinginan di sudut gelap bersama gembel-gembel yang di bawah lorong got kota dan bau busuk yang menyengat, hingga membuat sakit kepala.
Di hisapnya kembali rokok kretek yang tinggal setengah itu, percikan api dan abu terbang-terbang di terpa angin. asap asap kendaraan membubmbung di lagit kota sore itu, dari tempat duduk terlihat seperti kabut, namun tak segar sama sekali hanya membuat sesak.
Jamal bangit dari duduk, menggeser posisi duduk ke arah mata hari terbenam. Fikirannya menerawang lagi, mengapa langit tetiba jingga, apakah langit sedang mengejeknya awan-awan bergerak membentuk formasi berubah menyerupai banci-banci yang berkostum Miss Grand International tahun 2017 yang di tonton di televisi. dengan oramen yang melingkar di atas kepala, dan kristal-kristal yang entah apa, kemudian bersayap dan memiliki gedung-gedung di bawah kakinya, ah, andai yang muncul bener benar Miss Grand Internasional pasti indah sekali langit itu.
brengsek ...
banci banci berkostum senja itu lama kelamaan membelah diri dan menjadi ribuan di kepala alhasil jamal muak dan gemetar ngeri dibuatnya.
Kaki yang mulai lemah untuk pindah posisi duduk, diputuskan tetep pada posisi semula, menghadap senja yang mengejek.
Tapi lihat...!
banci-banci itu telah pergi "ahh mungkin mereka takut dengan asap rorko kretekku" gumamnya .
Tapi lihat...!
banci-banci itu telah pergi "ahh mungkin mereka takut dengan asap rorko kretekku" gumamnya .
Berepa menit kemudia dia sibuk menyanyi, entah liriknya dan nadanya tapi terdengar nanar dan menyayat-nyayat. Di putuskannya bangkit dan menari-nari berputar-putar. tetiba kakinya yang lemah menjadi kuat dan bertenaga, dilanjutkan menyanyi menari dan menghisap rokok terakhir di selipan jari.
"terserah lah tak ada pula yang perduli, apa lagi melihat ku"
"terserah lah tak ada pula yang mendengar kidung sunyiku"
"terserah lah siapa pula yang perduli aku menari"
"terserah lah duania ini terlalau busuk untuk terus berputra-pura"
"terserah lah-terserah"
"ha ha ha ha ha aha ha aha ha aha ha "
tawanya pecah seketika, 3 menit tertawa itu terlihat lepas namun memaknai sebuah perjalanan dan keikhlasan.
Jamal kembali ke tempat nya semula duduk, memandang senja yang hampir tenggelam dengan muka yang teduh, lebih teduh dari sebelumnya. Rokok pun masih terselip di mulut, tinggal satu pertiga dari semula. namun padam apinya, di ambil korek kayu dari saku celana hitam panjang yang dikenakan.
ya korek kayu di jaman melenial ini jamal masih pakai korek kayu entah manusia jenis apa dia ini, alasan sederha karena dia suka dengan gambar di bungkus korek kayu, ya alasan yang cukup masuk akal munggin bagi seorang jamal yang selalu ada ada saja tingkahnya.
sebentar saja dia hidupkan rokok yang tinggal satu pertiga dari semula itu. mulai menghisap dan menghembus.
"ahh nikmat seklai rokok kretek ini " ,
"tidak seperti kreek-kretek yang kemarin-kemarin"
gumam nya pada telinga sendiri.
Burung walet senja berhilir mudik di depan mata, pupil matanya kembali menbesar dan mengecil serupa lensa kamera. ah masih ada waktu untuk mengkitung jumlah walet-walet yang terbang ini fikirnya. dihitung nya mulai
"1,2,3,4,5,6,7,8,9,10...20,21.....40,47....71,76,80.......900,1000,"
Kemudian kerut kerut dahi menendakan lupa angka berapa yang selanjutnya harus disebutkan, secepat kilat dia menghitung lalu kelelahan.
Dibuka Instagram di handphone Smart yang sedari tadi berdering dan terabai. Instagram meminta User Name dan pasword, diketik dan klik Login.
di fotonya senja itu dengan caption
"sebagai mana suluh nan pandai menyimpan nayla, begitu pula, tubuh lusuh yang lihai memendam luka"
lalu di unggahnya foto senja itu, berharap jadi senja kenangan yang menyakitkan, kenangan senja yang juga indah.
di pandang cakrawala sore ini, tiba tiba tangisnya membuncah, terisak dan terlihat kacau.
Rokok kretek sudah sedari tadi meninggalkanya sendiri dengan isak dan airmata. dari air mata membawa luruh masalah, dari isak mencuat sakit-sakit dan kesedihan hati. dia menangis terus menagis sampai senyum berkembang lagi dan air mata habis, dan isak luruh di koyak angin.
dari aplikasi status whatsapp Handphone smart nya dia tuliskan
" dan sekali lagi cakrawala itu berbicara kepadaku,
menggunakan bahasa yang tidak ku mengerti.
entah, apa bahasa rinai, bahasa awan, atau kabut.
kau tahu ada yang berbenturan dan luruh menjadi air mata.
kemudian matahari ikut memaki,
sama bhasanya pun tak ku paham.
entah, di sadur dari bahasa burung, angin, atau pesawat terbang.
kau tahu, ada yang sesak lalu membuncah seperti letupan atom, menjadi isak.
lalu senja jingga berbisik, hanya bahasanya yang ku dengar samar-samar dan berkata,
"saatnya Pergi".
lalu disiapkannya senyuman termanis kepada Tuhan dan senja itu, di hempas tuhuh lusuhitu ke udara lalu terbang bersama walet-walet senja dan tarian angin, dan rinai dari langit senja yang jingga berubah menjadi hitam.sambil berbisik
"Saatnya Pergi".
"Saatnya Pergi".
(Selatan Jakarta, Januari 2018)
Komentar
Posting Komentar